![]() |
| Congklak |
Congklak adalah suatu permainan tradisional yang
dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya
dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan
jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan
batu-batu kecil.
Salah satu permainan tertua di dunia, Congklak dapat
ditelusuri jauh ke belakang Mesir kuno. Dibawa ke Indonesia, mungkin
berabad-abad yang lalu oleh pedagang Arab atau India, saat itu sama populer di
Indonesia saat ini seperti yang telah selama berabad-abad. Congklak dimainkan
pada papan dengan lekukan melingkar di kedua sisi dan lekukan di rumah
masing-masing ujung papan . Permainan ini dimainkan dengan 98 tanda-tanda kecil
seperti kerang atau manik-manik, yang dibagi secara merata antara semua
lekukan. Meskipun pada pandangan pertama permainan ini mirip seperti kalkulator,
permainan ini cukup menantang dan butuh waktu berlatih yang lama untuk menjadi
seorang yang ahli.
Asal Muasal Nama Permainan
Tradisional Congklak
Permainan Tradisional congklak berasal dari Negara Arab, di
daerah Timur Tengah permainan tradisional congklak ini sudah lama dikenal dengan
sebutan nama "Mancala". Mancala berasal dari bahasa Arab
"Naqala" yang artinya bergerak. Sedangkan di daerah Afrika, permainan
ini sering disebut dengan "Wari". Nama ini mengacu pada bagian yang
cekung pada papan congklak yang disebut juga sebagai "Awari" yang
berarti "Rumah".
Diperkirakan permainan tradisional congklak dibawa dari Timur Tengah ke
daratan Afrika. Dari Afrika kemudian menyebar ke Asia melalui perdagangan budak
yang dilakukan oleh pedagang Afrika di kepulauan Karibia pada sekitar abad ke
17.
Nama di berbagai daerah
Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan
nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Di
beberapa daerah di Sumatera
yang berkebudayaan Melayu, permainan
ini dikenal dengan nama congkak. Di Lampung permainan
ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi permainan
ini lebih dikenal dengan beberapa nama: Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang
dan Nogarata.
Permainan ini di Malaysia juga
dikenal dengan nama congkak, sedangkan dalam bahasa Inggris permainan
ini disebut Mancala.
Permainan congklak atau dakon ini
ternyata mengandung filosofi yang begitu luar biasa. Pada papan congklak
terdapat 7 lobang kecil yang berhadap-hadapan dan masing- masing berisi 7 biji
congklak, 7 disini dapat kita artikan jumlah hari dalam satu minggu. Begitu
juga dengan jumlah biji congklak yang kita isikan pada masing-masing lobang
tersebut berjumlah 7 biji. Artinya, tiap orang mempunyai waktu yang sama dalam
seminggu, yaitu 7 hari.
Kemudian, ketika biji congklak
diambil dari satu lobang, ia mengisi lobang yang lain, termasuk lobang pada
lumbung (lobang besar/induk). Pelajaran dari fase ini adalah setiap hari yang
kita jalani, akan berpengaruh pada hari-hari kita selanjutnya, dan juga
hari-hari orang lain. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan apa yang akan
terjadi pada masa depan kita. Apa yang kita lakukan hari ini bisa jadi sangat
bermakna bagi orang lain. Ketika biji diambil, kemudian diambil lagi, juga berarti
bahwa hidup itu harus memberi dan menerima. Tidak selalu mengambil, namun juga
memberi, untuk keseimbangan hidup.
Biji diambil satu persatu, tidak
dapat diambil sekaligus. Maksudnya, kita harus jujur untuk mengisi lobang pada
papan congklak kita. Kita harus jujur dalam mengisi hidup kita. Satu persatu,
sedikit demi sedikit, asalkan jujur dan baik, itu lebih baik daripada banyak
namun tidak jujur. Satu persatu biji yang diisi juga bermakna bahwa kita harus
menabung tiap hari untuk hari-hari berikutnya. Kita juga harus mempunyai
tabungan, yaitu biji yang berada di lobang induk (lobang besar/lumbung).
Permainan ini mengajarkan, bahwa
jika kita mempunyai rejeki, kita dapat membaginya untuk kebutuhan kita sendiri
satu per satu (tidak perlu berlebih), diwakilkan ketika kita meletakkan satu
biji ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Ketika rejeki itu berlebih
kita boleh menyimpannya di lumbung (lobang besar). Lagi-lagi cukup hanya satu.
Dan jika kita masih mempunyai lebihnya, kita bagikan ke saudara, tetangga,
teman, dan lain-lain (ditandai dengan meletakkan satu biji ke setiap lobang
papan congklak milik teman di hadapan kita). Namun kita tidak diperbolehkan
meletakkan biji di dalam lumbung milik lawan kita. Mengapa? Karena itu
merupakan kewajiban si empunya untuk menghidupi dirinya sendiri, yang
disimbolkan sebagai tabungan.
Sumber:


0 komentar:
Posting Komentar