Jumat, 25 Desember 2015

Congklak


Congklak


Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan batu-batu kecil.
Salah satu permainan tertua di dunia, Congklak dapat ditelusuri jauh ke belakang Mesir kuno. Dibawa ke Indonesia, mungkin berabad-abad yang lalu oleh pedagang Arab atau India, saat itu sama populer di Indonesia saat ini seperti yang telah selama berabad-abad. Congklak dimainkan pada papan dengan lekukan melingkar di kedua sisi dan lekukan di rumah masing-masing ujung papan . Permainan ini dimainkan dengan 98 tanda-tanda kecil seperti kerang atau manik-manik, yang dibagi secara merata antara semua lekukan. Meskipun pada pandangan pertama permainan ini mirip seperti kalkulator, permainan ini cukup menantang dan butuh waktu berlatih yang lama untuk menjadi seorang yang ahli.
Asal Muasal Nama Permainan Tradisional Congklak
Permainan Tradisional congklak berasal dari Negara Arab, di daerah Timur Tengah permainan tradisional congklak ini sudah lama dikenal dengan sebutan nama "Mancala". Mancala berasal dari bahasa Arab "Naqala" yang artinya bergerak. Sedangkan di daerah Afrika, permainan ini sering disebut dengan "Wari". Nama ini mengacu pada bagian yang cekung pada papan congklak yang disebut juga sebagai "Awari" yang berarti "Rumah".
Diperkirakan permainan tradisional congklak dibawa dari Timur Tengah ke daratan Afrika. Dari Afrika kemudian menyebar ke Asia melalui perdagangan budak yang dilakukan oleh pedagang Afrika di kepulauan Karibia pada sekitar abad ke 17.
Nama di berbagai daerah
Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Di beberapa daerah di Sumatera yang berkebudayaan Melayu, permainan ini dikenal dengan nama congkak. Di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan beberapa nama: Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata.
Permainan ini di Malaysia juga dikenal dengan nama congkak, sedangkan dalam bahasa Inggris permainan ini disebut Mancala.
Permainan congklak atau dakon ini ternyata mengandung filosofi yang begitu luar biasa. Pada papan congklak terdapat 7 lobang kecil yang berhadap-hadapan dan masing- masing berisi 7 biji congklak, 7 disini dapat kita artikan jumlah hari dalam satu minggu. Begitu juga dengan jumlah biji congklak yang kita isikan pada masing-masing lobang tersebut berjumlah 7 biji. Artinya, tiap orang mempunyai waktu yang sama dalam seminggu, yaitu 7 hari.

Kemudian, ketika biji congklak diambil dari satu lobang, ia mengisi lobang yang lain, termasuk lobang pada lumbung (lobang besar/induk). Pelajaran dari fase ini adalah setiap hari yang kita jalani, akan berpengaruh pada hari-hari kita selanjutnya, dan juga hari-hari orang lain. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan apa yang akan terjadi pada masa depan kita. Apa yang kita lakukan hari ini bisa jadi sangat bermakna bagi orang lain. Ketika biji diambil, kemudian diambil lagi, juga berarti bahwa hidup itu harus memberi dan menerima. Tidak selalu mengambil, namun juga memberi, untuk keseimbangan hidup. 

Biji diambil satu persatu, tidak dapat diambil sekaligus. Maksudnya, kita harus jujur untuk mengisi lobang pada papan congklak kita. Kita harus jujur dalam mengisi hidup kita. Satu persatu, sedikit demi sedikit, asalkan jujur dan baik, itu lebih baik daripada banyak namun tidak jujur. Satu persatu biji yang diisi juga bermakna bahwa kita harus menabung tiap hari untuk hari-hari berikutnya. Kita juga harus mempunyai tabungan, yaitu biji yang berada di lobang induk (lobang besar/lumbung).

Permainan ini mengajarkan, bahwa jika kita mempunyai rejeki, kita dapat membaginya untuk kebutuhan kita sendiri satu per satu (tidak perlu berlebih), diwakilkan ketika kita meletakkan satu biji ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Ketika rejeki itu berlebih kita boleh menyimpannya di lumbung (lobang besar). Lagi-lagi cukup hanya satu. Dan jika kita masih mempunyai lebihnya, kita bagikan ke saudara, tetangga, teman, dan lain-lain (ditandai dengan meletakkan satu biji ke setiap lobang papan congklak milik teman di hadapan kita). Namun kita tidak diperbolehkan meletakkan biji di dalam lumbung milik lawan kita. Mengapa? Karena itu merupakan kewajiban si empunya untuk menghidupi dirinya sendiri, yang disimbolkan sebagai tabungan.
Sumber:


0 komentar:

Posting Komentar