![]() |
| Egrang |
Egrang atau jangkungan
adalah galah atau tongkat yang
digunakan seseorang agar bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah.
Egrang berjalan adalah egrang yang diperlengkapi dengan tangga sebagai tempat
berdiri, atau tali pengikat untuk diikatkan ke kaki, untuk tujuan berjalan
selama naik di atas ketinggian normal. Jangkungan telah dibuat selama ratusan
tahun.
Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara
pasti dari mana asalnya, tetapi dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama
berbeda-beda seperti: sebagian wilayah Sumatera Barat dengan nama
Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu
berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal
dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung
yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam
bahasa Banjar di Kalimantan Selatan disebut batungkau.
Egrang adalah salah satu permainan tradisional atau dolanan anak-anak yg
saat ini sudah nyaris punah. Hampir punahnya dolanan anak tersebut salah
satunya karena adanya anggapan bahwa permainan tradisional
tidak layak dalam pola kehidupan modern namun Jika ditilik dari sisi ekonomis,
permainan ini sudah pasti sangat murah. Hanya bermodalkan sejumlah bambu dan
paku. permainan ini pun dapat diperagakan, tentunya dengan sedikit ketangkasan
si pemain yang tentunya dapat diasah. Cara
memainkan egrang terlihat mudah, kedua kaki,
tepatnya sela-sela antara ibu jari dan telunjuk kaki diinjak atau bertumpu pada
siki-siki (sudut siku) egrang, sementara kedua tangannya memegang bagian atas
bambu untuk memacu dengan cara menaik turunkannya sambil berjalan.
Permainan ini sering dilakukan
oleh anak-anak usia 7 sampai 13 tahun (anak SD, SMP). Tetapi tidak jarang anak
yang duduk di bangku TK pun sudah bisamemainkannya dan orang dewasa pun ikut
memainkan permainan egrang ini. Caramemainkan permainan ini sebenarnya beragam,
yang saya lakukan hanyalah salahsatu dari banyak cara yang lainnya. Permainan
egrang ini dipandang sebagaipermainan yang menyenangkan, menantang, dan tidak
memakan biaya yang mahaluntuk membuat alat permainan tersebut.
Pada dekade tahun 80-an, egrang kerap dijadikan sebagai ajang permainan maupun perlombaan, dari balap lari ataupun sepak bola dan berbagai jenis permainan lainnya. Selain dari bambu, egrang sering menggunakan bahan lain, yakni dari batok kelapa sebagai alas kaki yang diberi tali untuk pegangan tangan. Namun egrang jenis ini, hanya sedikit bisa menambah tinggi sang pemakai. Permainan tradisional seperti egrang, cublak-cublak suweng, gobak sodor, dan lain-lain, hampir tidak pernah lagi ditemukan dalam permainan anak-anak.
Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung
dalam permainan egrang adalah:kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai
kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar dapat
mengalahkan lawannya. Nilai keuletan tercermin dari proses pembuatan alat yang
digunakan untuk berjalan yang memerlukan keuletan dan ketekunan agar seimbang
dan mudah digunakan untuk berjalan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak
hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya
permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Sumber:


0 komentar:
Posting Komentar